<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>herman &#187; FOSS Free Open Source</title>
	<atom:link href="http://akuherman.web.id/tag/foss-free-open-source/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akuherman.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 06:02:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>FOSS (Free Open Source Software)</title>
		<link>http://akuherman.web.id/foss-free-open-source-software/</link>
		<comments>http://akuherman.web.id/foss-free-open-source-software/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 12:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS Free Open Source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuherman.web.id/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Menurut David Wheeler, secara umum program yang dinamakan free software (perangkat lunak bebas) atau open source software (perangkat lunak sumber terbuka) adalah program yang lisensinya memberi kebebasan kepada pengguna menjalankan program untuk apa saja, mempelajari dan memodifikasi program, dan mendistribusikan penggandaan program asli atau yang sudah dimodifikasi tanpa harus membayar royalti kepada pengembang sebelumnya. (Sumber: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut David Wheeler,  secara umum program yang dinamakan free software  (perangkat lunak bebas) atau open source software  (perangkat lunak sumber terbuka) adalah program yang  lisensinya memberi kebebasan kepada pengguna  menjalankan program untuk apa saja, mempelajari dan  memodifikasi program, dan mendistribusikan penggandaan  program asli atau yang sudah dimodifikasi tanpa harus  membayar royalti kepada pengembang sebelumnya. (Sumber:  http://www.dwheeler.com/off_fs_why.html). Free/Open  Source Software (FOSS) atau perangkat lunak bebas dan  open source (PLBOS) telah menjadi sebuah fenomena  internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, FOSS  mengalami perubahan besar dari sebuah kata yang relatif  tidak dikenal menjadi sebuah kata popular terbaru. Namun, istilah FOSS tetap belum mudah dipahami  mengingat FOSS merupakan konsep baru, misalnya apa saja  pengertian FOSS dan apa saja cabang atau  jenis-jenisnya. Bab-bab selanjutnya berikut ini  memberikan penjelasan yang baik tentang fenomena FOSS,  filosofinya, perbedaannya dengan program yang   bukan FOSS, dan metoda pengembangannya.</p>
<p><strong>II. FILOSOFI FOSS</strong></p>
<p>Ada dua  filosofi pokok pada kata FOSS, yaitu filosofi dari FSF  (Free Software Foundation) atau Yayasan perangkat   Lunak Bebas, dan filosofi dari OSI (Open Source  Initiative) atau Inisiatif Sumber Terbuka. Kita mulai  pembahasan dengan filosofi FSF, sesuai dengan urutan  sejarah dan karena posisi FSF sebagai pionir dalam  gerakan FOSS ini.  Tokoh utama gerakan FSF adalah  Richard M. Stallman, sedangkan tokoh gerakan OSI adalah  Eric S. Raymond  dan Bruce Perens.<br />
Menurut  FSF, perangkat lunak bebas mengacu pada kebebasan para  penggunanya untuk menjalankan,  menggandakan,  menyebarluaskan/menditribusikan, mempelajari, mengubah  dan meningkatkan kinerja  perangkat lunak.  Tepatnya, mengacu pada empat jenis kebebasan bagi para  pengguna perangkat lunak, yaitu:</p>
<ol>
<li>Kebebasan untuk menjalankan programnya  untuk tujuan apa saja (kebebasan 0).</li>
<li>Kebebasan  untuk mempelajari bagaimana program itu bekerja serta  dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda (kebebasan 1).  Akses pada kode program merupakan suatu  prasyarat.</li>
<li>Kebebasan untuk menyebarluaskan  kembali hasil salinan perangkat lunak tersebut sehingga  dapat membantu sesama anda (kebebasan  2).</li>
<li>Kebebasan untuk meningkatkan kinerja  program, dan dapat menyebarkannya ke khalayak umum  sehingga semua menikmati keuntungannya (kebebasan 3).  Akses pada kode program merupakan suatu prasyarat  juga.</li>
</ol>
<p>Filosofi OSI agak berbeda. Ide  dasar open source sangat sederhana. Jika para pemrogram  dapat mempelajari, mendistribusikan ulang, dan mengubah  kode sumber sebagian perangkat lunak, maka perangkat  lunak itu berkembang. Masyarakat mengembangkannya,  mengaplikasikannya, dan memperbaiki kelemahannya.<br />
OSI difokuskan pada nilai-nilai teknis dalam  pembuatan perangkat lunak yang berdaya guna dan dapat  dihandalkan, dan pendekatan istilah OSI ini lebih  sesuai kebutuhan bisnis daripada filosofi FSF. OSI  tidak terlalu fokus pada isu moral seperti yang  ditegaskan FSF, dan lebih fokus pada manfaat praktis  dari metoda<br />
pengembangan terdistribusi dari FOSS.  Meskipun filosofi dasar kedua gerakan ini berbeda, FSF  dan OSI berbagi area yang sama dan bekerja sama dalam  hal-hal praktis, seperti pengembangan perangkat lunak,  usaha melawan perangkat lunak proprietary, paten  perangkat lunak, dan sejenisnya. Richard Stallman  mengatakan bahwa gerakan perangkat lunak bebas dan  gerakan open source merupakan dua “partai  politik” dalam komunitas yang sama.</p>
<p><strong>III. METODA PENGEMBANGAN FOSS</strong></p>
<p>Model pengembangan FOSS adalah unik, dan  menjadi sukses karena muncul bersamaan dengan  berkembangnya internet dan efeknya yang luar biasa di  bidang komunikasi. Analogi Katedral dan Bazar digunakan  untuk  membedakan model pengembangan FOSS (Bazar)  dengan metode pengembangan perangkat lunak tradisional  (Katedral).<br />
Pengembangan perangkat lunak  tradisional diibaratkan dengan cara katedral dibangun  pada masa lalu. Kelompok kecil tukang batu secara  hati-hati merencanakan sebuah desain dalam tempat yang  terisolasi, dan  segala sesuatunya dibuat dalam  sebuah usaha tunggal. Sekali katedral berhasil  dibangun, maka dianggap  selesai, dan hanya  sedikit dilakukan perubahan lanjutan. Perangkat lunak  secara tradisional dibuat dengan gaya yang serupa itu.  Sekelompok pemrogram bekerja dalam suatu isolasi  (misalnya di sebuah perusahaan), dengan perencanaan dan  manajemen yang hati-hati, hingga bekerjaanya selesai  dan program dirilis ke publik. Sekali dirilis, program  dianggap selesai, dan selanjutnya hanya ada pekerjaan  terbatas untuk program itu.<br />
Sebaliknya,  pengembangan FOSS lebih mirip dengan sebuah bazar, yang  tumbuh secara organis. Dalam sebuah  bazar,  pedagang awal datang, membangun struktur, dan memulai  bisnis. Pedagang-pedagang berikutnya datang dan  membangun strukturnya masing-masing. Perkembangan bazar  nampak menjadi gaya yang tidak teratur. Pada dasarnya  para pedagang diarahkan untuk membangun struktur  minimal yang dapat berfungsi sehingga mereka bisa  memulai berjualan. Tambahan dibuat sesuai kebutuhan dan  keadaaan selanjutnya. Dengan model serupa, pengembangan  FOSS dimulai dari yang tidak terstruktur. Pengembang  merilis kode programnya ke publik meskipun baru  berfungsi secara minimal, dan kemudian mengubah  programnya sesuai umpan balik yang diberikan publik.  Pengembang lain bisa ikut mengembangkan program itu  berdasar kode-kode yang telah ada. Pada periode waktu  tertentu, keseluruhan sistem operasi dan aplikasi  menjadi tumbuh dan berkembang secara terus  menerus.</p>
<p>Metoda pengembangan “bazar”  telah dijadikan pilihan untuk mendapatkan beberapa  kelebihan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Mengurangi  duplikasi kerja: Dengan merilis program lebih cepat,  dan memberikan izin kepada pengguna untuk megubah dan  meredistribusi kode sumber, pengembang FOSS  memanfaatkan kembali karya yang dihasilkan oleh  compatriots. Skala ekonomi dapat menjadi sangat besar.  Daripada 5 pengembang software pada sepuluh perusahaan  mengembangkan aplikasi jaringan yang sama, ada potensi  50 pengembang melakukan secara bersamaan membentuk  kerja sama kombinasi. Mengurangi duplikasi kerja akan  membuat skala pengembangan FOSS menjadi besar, karena  ribuan pengembang di seluruh dunia dapat bekerja  sama.</li>
<li>Membangun di atas karya lain: Dengan  ketersediaan kode sumber untuk membangun program, waktu  pengembangan menjadi pendek. Banyak projek FOSS  berbasis program yang dihasilkan projek lain untuk  menambah fungsionalitas yang diperlukan. Sebagai  contoh, projek server web Apache lebih memilih  memanfaatkan projek OpenSSL daripada menulis sendiri  kode kriptografi, sehingga mengehmat jutaan jam untuk  pembuatan program dan pengujiannya. Bahkan jika kode  sumber tidak dapat secara langsung digabungkan,  ketersediaan kode sumber memudahkan pengembang untuk  belajar bagaimana projek lain memecahkan masalah yang  sama.</li>
<li>Kendali mutu yang lebih baik: Semakin  banyak orang menggunakan dan mengevaluasi kode sumber,  maka kesalahan yang ada akan mudah ditemukan dan  diperbaiki secara cepat. Aplikasi proprietary bisa saja  menerima laporan kesalahan, tetapi karena pengguna  tidak dapat akses ke kode sumber, maka pengguna hanya  bisa sebatas melaporkan. Pengembang FOSS sering  menemukan bahwa pengguna yang memiliki akses ke kode  sumber tidak hanya bisa melaporkan kesalahan, namun  juga menjelaskan lebih tajam apa penyebabnya, dan dalam  beberapa kasus pengguna dapat mengirimkan kode  perbaikannya. Ini sangat mengurangi waktu pengembangan  dan kontrol terhadap kualitas.</li>
<li>Mengurangi biaya  perawatan: Biaya perawatan software sering sama atau  lebih besar dari biaya pengembangan awal. Jika sebuah  perusahaan merawat software sendirian, maka pekerjaan  itu menjadi sangat mahal. Dengan menggunakan model  pengembangan FOSS, biaya perawatan dapat dibagi di  antara ribuan pengguna potensial, sehingga mengurangi  biaya perawatan per orang atau organisasi. Demikian  pula peningkatan kemampuan software dapat dilakukan  oleh banyak organisasi atau individu, yang hasilnya  akan lebih efisien dalam menggunakan sumber  daya.</li>
</ol>
<p><strong>IV. SEJARAH  FOSS</strong></p>
<p>Gerakan FOSS dimulai dalam budaya  “hacker” yang terjadi pada beberapa  laboratorium ilmu <a href="http://www.beritanet.com/">komputer</a> (Stanford,  Berkeley, Carnegie Melion, dan MIT) di ahun 1960an dan  1970an. Komunitas pemrogram adalah kecil dan saling  terkait secara dekat. Kode program disebarluaskan di  antara anggota komunitas. Jika Anda membuat perbaikan,  Anda diharapkan untuk mengirim kode Anda ke komunitas  pengembang.</p>
<p><strong>4.1. Sejarah Singkat Gerakan  FOSS</strong><br />
Gerakan FOSS boleh dikatakan dimulai  sejak awal mula industri komputer, meskipun tidak  dinyatakan secara formal atau dengan konsep yang jelas.  Hanya saja pada akhir 1970an dan awal 1980an<br />
terjadi konflik antara konsep saling berbagi  perangkat lunak dengan konsep perangkat lunak  berpemilik (proprietary). Acuan awal konflik ini dibuat  oleh William H. Gates III (Bill Gates), dalam  pernyataannya yang terkenal “An Open Letter to  Hobbyists” (Surat Terbuka kepada para Hobby).  Dalam surat tertanggal 3 Februari 1976 itu ia mencemooh  budaya berbagi perangkat lunak yang telah umum berlaku:  Mengapa ini? Hobbyists harus hati-hati, sebagian besar  Anda mencuri perangkat lunak Anda. Perangkat keras  harus dibeli, tetapi perangkat lunak menjadi sesuatu  untuk dibagi. Siapa yang mau peduli jika orang yang  bekerja untuk itu mengambil bayaran? Perangkat lunak  proprietary ingin mengambil kesempatan pada tahun-tahun  berikutnya. Di laboratorium kecerdasan buatan  (Artificial Intelligence) MIT pada awal 1980an, sebuah  perusahaan bernama Symbolics didirikan, lalu mengambil  kode-kode yang tersedia secara bebas (bahasa  pemrograman LISP) dan menjadikannya proprietary (tidak  tersedia bebas alias berpemilik). Dalam prosesnya, ini  berarti menghapus budaya berbagi perangkat lunak di  laboratorium MIT saat itu. Namun, perusakan ini  akhirnya akan menghasilkan<br />
kreasi FSF dan budaya  FOSS saat ini. Richard Stallman, salah satu anggota  laboratorium MIT saat itu, terkejut atas lanjutan  persitiwa tersebut. Ini kemudian membentuk pandangannya  terhadapat perangkat lunak proprietary, dan  membangkitakan keinginannya untuk membuat sistem  operasi yang free (bebas). Projek GNU (GNU is Not UNIX)  berdiri pada Januari 1984. Dalam dekade berikutnya  projek GNU menghasilkan berbagai program atau tool  penting merupakan bagian dari sistem operasi. Yayasan  perangkat lunak bebas (FSF) didirikan setahun kemudian  untuk mempromosikan perangkat lunak dan projek GNU.  Namun, hingga 1991 projek GNU belum menghasilkan sistem  operasi lengkap karena masih ada kekurangan pada bagian  kritis, yaitu kernel. Kernel merupakan inti atau  jantung dari sistem operasi. Linus Torvalds yang saat  itu mahasiswa tahun kedua Universitas Helsinki membuat  dan mendistribusikan kernel seperti UNIX. Sejalan  dengan tujuan pengembangan FOSS, kernel yang<br />
kemudian diberi nama Linux itu tersebar secara luas,  dikembangkan, dan diaplikasikan menjadi inti dari  sistem operasi GNU/Linux. Ada beberapa projek FOSS yang  sedang berjalan dalam waktu bersamaan, antara lain  server DNS BIND, bahasa pemrograman Perl, dan sistem  operasi BSD. Sebagian besar projek itu kemudian  bergabung atau saling menguatkan. Sistem operasi  GNU/Linux terus tumbuh secara cepat dengan makin  lengkap fitur dan kemampuannya. Pada 1997, Linux  meledak menjadi <a href="http://www.beritanet.com/">berita</a> media,  sesuai dengan perkiraan IDC (International Data  Corporartion) bahwa Linux telah menguasai 25% sistem  operasi server dan memiliki pertumbuhan 25% per<br />
tahun.</p>
<p>Pada 1998, sebagai tanggapan terhadap  Netscape yang merilis kode sumber program Netscape  Navigator sebagai FOSS, sekelompok pengembang FOSS  bergerak bersama dan label “Open Source”  digulirkan. Gerakan ini lalu<br />
membentuk OSI (Open  Source Initiative) dan OSD (Open Source Definition).  Tujuan utama gerakan ini untuk mengajak dunia bisnis  memberi penekanan kepada proses pengembangan FOSS, dan  mengalihkan perhatian dari gerakan perangkat lunak  bebas (Free Software) yang kontroversial saat itu.</p>
<p>Pada 1999, perusahaan distributor GNU/Linux Red  Hat berhasil go public atau IPO (Initial Public  Offering) dengan meraup dana dari pasar saham senilai  US$ 4,8 milyar (sekitar Rp 43 trilyun jika 1US$  = Rp 9.000,). Sukses lain IPO perusahaan FOSS saat itu  adalah VA Linux (US$ 7 milyar atau Rp 63 trilyun),  Cobalt Networks (US$ 3,1 milyar  atau Rp 28  trilyun), dan Andover.net (US$ 712 juta atau Rp 6,4  trilyun). Sebagai anak baru dari FOSS, kesuksesan  GNU/Linux menunjukkan bahwa era FOSS telah benar-benar  tiba.</p>
<p><strong>V. MENGAPA FOSS?</strong></p>
<p>Perangkat lunak open source telah disebut dengan  beberapa istilah baik dan buruk, antara lain: gerakan,  mode, virus, konspirasi komunis, hati dan jiwa dari  internet. Tetapi ada satu poin yang sering dilupakan  orang bahwa perangkat lunak open source juga merupakan  kendaraan yang sangat efektif untuk mentransfer  kekayaan dari dunia industri ke negaranegara  berkembang. Itu diungkapkan Andrew Leonard dalam  tulisannya “An Alternative Voice: How the  TechPoor Can Still Be Software Rich” (bagaimana  yang miskin <a href="http://www.beritanet.com/">teknologi</a> dapat  tetap menjadi kaya<br />
perangkat  lunak).</p>
<p><strong>Apakah FOSS selalu  Free?</strong><br />
Mitos terkenal di seputar FOSS  adalah selalu gratis, yang artinya tidak ada biaya sama  sekali. Ini benar hanya untuk tingkatan tertentu,  misalnya tidak perlu biaya izin untuk mendownload atau  menggandakan, misalnya iso CD IGOS Nusantara atau  Fedora. Mitos itu tidak benar untuk aplikasi FOSS yang  membutuhkan biaya<br />
dalam pengemasan, instalasi,  support, pelatihan, dan lain-lain. Banyak distro Linux  seperti Red Hat, SUSE, Mandriva, Debian, Ubuntu, dan  lain-lain dapat diperoleh tanpa biaya lisensi untuk  mendownloadnya<br />
melalui internet. Dalam hal ada  biaya lisensi, hampir semua biaya lisensi aplikasi FOSS  lebih murah<br />
dibandingkan lisensi perangkat lunak  proprietary. Namun, biaya penggunaan FOSS tidak hanya  biaya pemaketan atau infrastruktur. Ada juga biaya  personal, biaya perangkat keras, biaya yang hilang  (opportunity costs) misalnya karena peralihan, dan  biaya pelatihan. Dengan menghitung biaya total  kepemilikan atau TCO (Total Costs of Ownership), akan  tergambar penghematan yang diperoleh jika menggunakan  FOSS.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuherman.web.id/foss-free-open-source-software/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
